Amsal 23:13–14 termasuk ayat yang mungkin membuat kita berhenti ketika membacanya hari ini.

“Jangan menolak didikan dari anakmu, ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan.”

Apakah ini berarti Alkitab mengajarkan bahwa orang tua harus memukul anak?

Kita perlu membaca ayat ini dalam konteks kitab Amsal dan dunia pada waktu itu. Hukuman fisik memang dikenal sebagai bagian dari pendisiplinan dalam masyarakat kuno, jadi tidak perlu mencoba menghilangkan unsur tersebut dari teks. Namun itu tidak berarti kita dapat langsung mengambil praktiknya dan menjadikannya aturan parenting untuk setiap zaman.

Yang sedang ditekankan Amsal adalah pentingnya didikan. Anak tidak dibiarkan begitu saja mengikuti keinginannya tanpa pengarahan dan koreksi. Orang tua mempunyai tanggung jawab untuk menolong anak mengenali mana yang baik dan buruk, memahami konsekuensi dari tindakannya, dan perlahan-lahan belajar menjalani hidup dengan hikmat.

Ayat 14 membantu kita melihat tujuan di balik didikan itu:

“Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati.”

Bahasa yang digunakan memang kuat, tetapi pesannya jelas: membiarkan seorang anak terus berjalan dalam kebodohan bukanlah bentuk kasih. Ada saatnya orang tua perlu mengatakan tidak, menetapkan batas, mengoreksi perilaku, dan memberikan konsekuensi yang sesuai.

Di sinilah disiplin perlu dibedakan dari sekadar membuat anak patuh. Kalau tujuan kita hanya kepatuhan, kita mungkin puas ketika anak melakukan apa yang kita minta. Padahal tujuan yang lebih jauh adalah kedewasaan. Anak yang awalnya membutuhkan banyak batas dari luar diharapkan semakin mampu mengembangkan pengendalian diri dan membuat pilihan yang bijaksana dari dalam dirinya sendiri.

Menariknya, dalam pasal yang sama ada perkataan:

“Hai anakku, berikanlah hatimu kepadaku, biarlah matamu senang dengan jalan-jalanku.”

— Amsal 23:26

Jadi pembentukan anak dalam Amsal tidak dapat dilepaskan begitu saja dari relasi.

Karena itu, connection before correction tidak berarti orang tua menghindari koreksi supaya hubungan tetap nyaman. Kita bisa tetap hadir, mendengarkan dan memahami apa yang terjadi dalam diri anak, sambil tetap memegang batas ketika memang diperlukan.

Mungkin pertanyaan yang lebih berguna ketika membaca Amsal 23:13–14 bukan hanya, “Apakah orang tua boleh memakai rotan?” tetapi, “Apa sebenarnya tujuan saya ketika mendisiplinkan anak?”

Apakah saya sedang bereaksi karena terganggu dan ingin anak segera menurut, atau saya sedang menolongnya bertumbuh menjadi seseorang yang perlahan-lahan mampu memilih apa yang baik dan hidup dengan hikmat?