Filipi 3:13 (TB) Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku

Jika kita melupakan sejarah, maka kita akan kehilangan siapa diri kita. Jika kita belajar sejarah, maka kita akan melihat diri kita yang gagal belajar sejarah. Mengapa? Kita menjadi siapa diri kita hari ini karena dibentuk oleh sejarah, entah suka atau tidak suka dengan sejarah itu. Jika kita belajar sejarah hidup kita, maka kita melihat diri kita bak keledai yang terperosok di lubang yang sama, itulah sejarah!

Mengapa kita tetap perlu belajar sejarah? Karena kita mencoba melihat "tangan Allah" yang tidak terlihat, tapi kita bisa merasakan, yang membentuk diri kita menjadi bejana yang indah pada hari ini. Keping demi keping sebuah bejana yang telah hancurpun bisa dipungut-Nya satu per satu dan dibentuk kembali menjadi mozaik yang indah.

Janganlah kita tenggelam pada masa lalu, dimana prestasi, kegagalan, luka hidup, apapun itu identitas lama sebagai pusat hidup, karena Kristus telah menemukan diri kita dan kita dipanggil-Nya untuk terus melangkah lebih maju kepada-Nya.

Kata kunci ayat diatas yang kita uraikan adalah: τὰ μὲν ὀπίσω ἐπιλανθανόμενος (ta men opiso epilanthanomenos), artinya: melupakan apa yang di belakang.

τοῖς δὲ ἔμπροσθεν ἐπεκτεινόμενος (tois de emprosthen epekteinomenos), artinya: mengulurkan diri kepada apa yang di depan. Kedua kata ini memakai grammar present participle middle, yang menjelaskan bahwa Paulus menggambarkan suatu tindakan yang sedang berlangsung saat penulis menuliskan kepada pembaca pertama jemaat di Filipi. Kita melihat dari makna harafiah dan gramatikal, maka nampak bahwa kehidupan Paulus yang dahulu, yang telah diubahkan dan tidak lagi menjadikan masa lalu sebagai pusat hidupnya, tetapi mengarahkan diri kepada apa yang di depan, agar bisa mencapai tujuan hidup untuk memenuhi panggilan surgawi dalam proses pembaruan yang dikerjakan Allah. ( bdk O'Brien, Peter T dalam The Epistle to the Philippians: A Commentary on the Greek Text. New International Greek Testament Commentary (Grand Rapids: Eerdmans, 1991)page 425-428).

Firman Tuhan tidak mengatakan bahwa kita harus menghapus atau menyangkal masa lalu. Tetapi yang dimaksud ialah, “jangan menjadikan masa lalu sebagai dasar identitas, kebanggaan, pembenaran, atau alasan untuk berhenti mengejar hidup yang makin serupa dengan Kristus.” Yang dimaksudkan adalah kesadaran bahwa kita belum mencapai kesempurnaan rohani, disertai kerinduan untuk terus mengejar hidup yang serupa dengan Kristus (bdk G. Walter Hansen, dalam The Letter to the Philippians (Grand Rapids: Eerdmans, 2009).

Dalam Westminster Confession of Faith, pasal 16 ayat 2 disebutkan, "these good works, done in obedience to God's commandments, are the fruits and evidences of a true and lively faith" (perbuatan- perbuatan baik, diselesaikan dalam ketaatan kepada perintah Allah, adalah buah buah dan bukti nyata dari iman yang hidup). Kaitan dengan kita khususnya dengan istilah "good works" adalah: karena kita telah menerima anugerah Kristus, maka kehidupan kita menghasilkan buah.

Apa pendapat diri kita sendiri tentang masa lalu dan masa kini diri kita? Apa yang seharusnya menjadi cara pandang kita? Melupakan masa lalu karena sudah berhasil menjadi orang baik? Atau kita selalu mengejar keserupaan dengan Kristus karena telah ditangkap lebih dulu oleh Kristus?

Kemana arah hidup kita? Masihkah kita peduli akan panggilan dan kehendakNya melalui hidup kita? Hidup serupa Kristus lebih berharga daripada segala sesuatu yang ada di belakang kita. Sisa waktu terbatas dan kita tidak tahu berapa panjang kesempatan itu? Hanya dengan anugerah pertolongan-Nya kita mampu berbenah diri, melihat luka-luka akibat tertusuk berbagai duri di masa lalu sebagai pembelajaran yang berharga dan hanya oleh pertolongan Roh Kudus kita mampu melihat proses pembentukan itu untuk tujuan yang baik. Kegagalan di masa lalu bukanlah identitas yang harus dipertahankan, tetapi melihat bagaimana Allah bekerja melalui kegagalan itu.

Sobat terkasih, kehidupan kita sebagai percaya merupakan perjalanan yang terus bergerak maju di bawah anugerah dan pemeliharaan Allah.

Filipi 3:16 (TB) Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.