Ketika berbicara tentang kasih karunia dalam parenting, kita tidak sedang membicarakan sebuah teknik untuk membuat pola asuh menjadi lebih lembut. Kasih karunia berawal dari apa yang Allah kerjakan bagi kita—menerima, menopang, dan memampukan kita untuk terus bertumbuh di dalam Kristus. Sebagai orang tua, kita mendampingi anak sambil menyadari bahwa kita sendiri juga masih berada dalam proses pertumbuhan.
Karena itu, kasih karunia bukan berarti tidak ada kebenaran, tanggung jawab, batas, atau koreksi. Anak tetap membutuhkan orang dewasa yang cukup mengasihinya untuk mengatakan “tidak”, memberikan batas, menghentikan perilaku yang merusak, memberikan konsekuensi yang tepat, dan mengajarkan jalan yang lebih baik.
Pada masa awal pertumbuhannya, anak memang membutuhkan banyak pengarahan dari luar. Kemampuan untuk mengelola dorongan, mempertimbangkan konsekuensi, mengambil tanggung jawab, dan membuat keputusan yang bijaksana berkembang secara bertahap. Di sinilah otoritas orang tua memiliki tempat yang penting. Anak belum selalu mampu melihat apa yang baik bagi dirinya sehingga orang tua perlu membimbing, melindungi, dan terkadang menghentikannya.
Namun tujuan disiplin bukan supaya anak takut kepada orang tua atau sekadar menjadi anak yang selalu menurut. Jika disiplin hanya menghasilkan kepatuhan ketika orang tua hadir, anak mungkin belajar mengikuti aturan, tetapi belum tentu memahami mengapa suatu pilihan baik atau tidak baik.
Seiring anak bertumbuh, kita ingin menolongnya semakin mampu memahami alasan di balik suatu batas, mempertimbangkan akibat dari pilihannya, mengambil tanggung jawab, dan perlahan mengembangkan hikmat dari dalam. Apa yang pada awalnya banyak diarahkan dari luar diharapkan semakin menjadi pengendalian diri dan tanggung jawab yang tumbuh dari dalam dirinya.
Di sinilah prinsip connection before correction dapat menolong. Koneksi tidak berarti menghilangkan koreksi, dan koreksi tidak harus mengorbankan koneksi. Orang tua dapat mendengarkan apa yang sedang dialami anak tanpa harus menyetujui semua perilakunya. Kita dapat memahami bahwa ia sedang kecewa atau marah sambil tetap mengatakan bahwa perilaku tertentu tidak dapat diterima.
Demikian juga dengan konsekuensi. Konsekuensi tidak perlu digunakan untuk mempermalukan atau membuat anak takut. Ketika diberikan secara tepat, konsekuensi dapat membantu anak melihat hubungan antara pilihan dan akibatnya, kemudian belajar memikirkan apa yang dapat dilakukan secara berbeda.
Dengan demikian, otoritas orang tua bukan terutama alat untuk mempertahankan kontrol. Otoritas adalah tanggung jawab untuk membimbing, melindungi, mengoreksi, dan membentuk selama anak masih membutuhkan kita untuk melakukannya. Seiring bertambahnya usia dan kematangan anak, cara kita menggunakan otoritas itu pun perlu menyesuaikan dengan kemampuan anak untuk mengambil tanggung jawab yang semakin besar.
Kasih karunia dan disiplin karena itu tidak perlu dipertentangkan. Kita dapat mengasihi sambil memberikan batas, terkoneksi sambil mengoreksi, dan memberi ruang bagi anak untuk bertumbuh tanpa melepaskan tanggung jawab untuk membimbingnya.
Pada akhirnya, kita bukan hanya sedang membesarkan anak yang patuh ketika diawasi. Kita sedang mendampingi seorang anak menuju kedewasaan—hingga ia semakin mampu memahami, bertanggung jawab, dan memilih dengan bijaksana ketika suatu hari kita tidak lagi berada di sampingnya.