Kita biasanya lebih mudah mengenali dosa ketika bentuknya terlihat jelas. Ada perkataan yang menyakitkan, kebohongan, tindakan yang tidak jujur, atau sesuatu yang kita tahu bertentangan dengan kehendak Tuhan. Tetapi semakin kita belajar mengenali apa yang terjadi di dalam diri, kita mungkin mulai melihat bahwa persoalannya tidak selalu muncul dalam bentuk yang begitu mudah dikenali.

Kadang sesuatu terjadi jauh sebelum sebuah tindakan terlihat dari luar.

Ketika merasa terancam, kita berusaha melindungi diri. Ketika takut ditolak, kita mungkin menjaga jarak. Ketika merasa tidak aman, kita berusaha memastikan keadaan tetap berada dalam kendali kita. Ketika terluka oleh seseorang, kita dapat terus mengingat apa yang ia lakukan supaya kita tidak kembali lengah. Ketika melakukan kesalahan, kita mencari penjelasan yang membuat kita tidak perlu terlalu berhadapan dengan bagian kita sendiri.

Tidak semua bentuk perlindungan diri adalah dosa. Kemampuan melindungi diri merupakan bagian penting dari kehidupan. Ada keadaan ketika kita memang perlu menjauh dari sesuatu yang tidak aman, mengatakan tidak, membuat batas, atau berhenti memberikan akses kepada seseorang yang terus menyakiti kita. Karena itu, kita perlu berhati-hati agar tidak menyebut setiap usaha melindungi diri sebagai sikap yang salah.

Namun, ada kalanya sesuatu yang awalnya kita lakukan untuk melindungi diri perlahan mulai memengaruhi cara kita memperlakukan orang lain.

Kita mungkin pernah dikhianati sehingga sekarang sulit percaya. Kesulitan mempercayai itu sendiri tidak selalu merupakan pilihan yang kita buat dengan sadar. Tetapi karena takut kembali dikhianati, kita mungkin mulai memeriksa, mengontrol, atau terus-menerus menuntut kepastian dari orang lain. Kita mungkin pernah mengalami konflik yang membuat kita merasa tidak aman, lalu ketika ketegangan muncul dalam relasi sekarang, kita memilih diam berhari-hari bukan karena membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, tetapi karena ingin orang lain merasakan ketidaknyamanan yang kita rasakan.

Di sinilah melihat ke dalam diri menjadi lebih rumit. Kita dapat mempunyai alasan yang sungguh dapat dimengerti mengapa sebuah pola terbentuk, sementara pada saat yang sama mulai menyadari bahwa cara kita menjalankan pola itu sekarang mempunyai dampak terhadap orang lain.

Dosa tidak hanya dapat muncul melalui tindakan yang dari luar tampak jelas salah. Ia juga dapat bekerja di dalam cara kita membenarkan diri, mempertahankan kepahitan, berusaha mengendalikan keadaan, menolak mengakui bagian kita dalam konflik, atau menjadikan perlindungan diri sebagai alasan untuk tidak lagi mengasihi orang lain dengan benar.

Kadang kita bahkan dapat menggunakan cerita yang benar tentang apa yang pernah terjadi kepada kita untuk menghindari sesuatu yang Tuhan sedang tunjukkan tentang diri kita sekarang. Kita tahu mengapa kita menjadi seperti ini. Kita dapat menjelaskan dari mana respons itu berasal. Penjelasan tersebut mungkin memang benar dan penting. Tetapi mengetahui asal sebuah pola tidak selalu menjawab pertanyaan tentang bagaimana kita memilih hidup dengan pola tersebut hari ini.

Mazmur 139:23–24 memberi kita sebuah cara yang berbeda untuk melihat diri. Pemazmur tidak hanya memeriksa dirinya sendiri dan menentukan apa yang benar atau salah berdasarkan apa yang ia rasakan. Ia meminta Allah menyelidiki hatinya, mengenal pikirannya, melihat apakah ada jalan yang serong, dan menuntunnya di jalan yang kekal.

Doa seperti ini membutuhkan keberanian karena kita datang kepada Tuhan bukan hanya dengan bagian diri yang ingin kita pulihkan, tetapi juga dengan bagian yang mungkin tidak ingin kita lihat.

Mungkin ada kepahitan yang selama ini terasa pantas karena apa yang pernah dilakukan seseorang kepada kita. Mungkin ada kebutuhan untuk mengendalikan yang selama ini kita sebut sebagai kehati-hatian. Mungkin ada pembenaran diri yang membuat kita sangat mudah melihat kesalahan orang lain tetapi sulit melihat bagian kita sendiri. Atau mungkin kita sudah begitu lama mengandalkan diri sendiri sehingga mempercayai Tuhan terasa lebih sulit daripada mengatur segala sesuatu menurut cara kita sendiri.

Namun, mengenali hal-hal tersebut bukan berarti kita kemudian menyalahkan diri atas semua yang pernah terjadi kepada kita. Kita tetap dapat mengatakan bahwa sesuatu memang menyakitkan. Kita dapat mengakui bahwa seseorang memperlakukan kita dengan tidak benar. Kita dapat membutuhkan waktu untuk berduka, membuat batas yang sehat, atau menerima pertolongan. Mengakui dosa kita sendiri tidak mengubah kesalahan orang lain menjadi benar.

Yang berubah adalah kita mulai melihat bahwa cerita kita tidak berhenti pada apa yang dilakukan orang lain kepada kita. Kita juga mempunyai bagian dalam bagaimana kita hidup dan berelasi sekarang.

Hal ini menjadi semakin terlihat dalam relasi. Apa yang tidak kita sadari di dalam diri sering kali ikut masuk ke dalam cara kita berbicara, menghadapi konflik, membaca tindakan orang lain, dan merespons ketika kebutuhan kita tidak terpenuhi. Ketakutan dapat membuat kita cepat menarik kesimpulan. Kepahitan dapat membuat kita membaca hampir semua tindakan seseorang melalui kesalahan yang pernah ia lakukan. Keinginan mengendalikan dapat membuat kita sulit memberi ruang kepada orang lain untuk berbeda. Pembenaran diri dapat membuat percakapan berubah menjadi usaha membuktikan siapa yang paling benar.

Karena itu, pertumbuhan dalam relasi tidak hanya berarti belajar teknik komunikasi yang lebih baik. Kadang kita perlu berhenti dan memperhatikan apa yang sebenarnya sedang menggerakkan respons kita.

Apa yang sedang saya takutkan? Apa yang sedang saya coba lindungi? Mengapa saya begitu membutuhkan orang lain melakukan sesuatu dengan cara saya? Apakah saya sedang membuat batas yang sehat, atau sedang menghukum seseorang dengan jarak? Apakah saya sedang mengambil waktu untuk memproses emosi, atau menghindari percakapan yang perlu saya hadapi? Apakah penjelasan tentang masa lalu membantu saya memahami diri, atau mulai saya gunakan untuk membenarkan respons saya sekarang?

Kita mungkin tidak selalu dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan cepat. Karena itu, kita membawanya kepada Tuhan. Kita membutuhkan Firman yang menolong kita melihat apa yang benar, karya Roh Kudus yang menyingkapkan apa yang tidak kita lihat, serta relasi dengan orang-orang yang cukup aman dan jujur untuk membantu kita mengenali diri.

Ketika Tuhan menunjukkan sesuatu yang perlu kita akui, kita tidak harus mempertahankan diri. 1 Yohanes 1:9 mengingatkan bahwa kita dapat datang kepada-Nya dengan pengakuan karena Dia setia dan adil untuk mengampuni dan menyucikan kita. Pertobatan bukan berarti kita mengatakan bahwa seluruh cerita adalah kesalahan kita. Kita sedang mengakui bagian yang memang menjadi tanggung jawab kita.

Dan mungkin dalam proses itu kita perlahan menemukan bahwa kita tidak harus terus hidup dengan cara yang dahulu kita gunakan untuk melindungi diri. Ada perlindungan yang memang masih diperlukan dan ada batas yang perlu tetap dijaga. Tetapi ada pula cara-cara lama yang Tuhan sedang ajak kita lepaskan karena cara tersebut sekarang menghalangi kita untuk mengasihi, menerima kasih, mempercayai-Nya, dan hadir dengan lebih jujur dalam relasi.

Pertumbuhan kemudian bukan sekadar menjadi lebih pandai memahami mengapa kita seperti sekarang. Pemahaman itu penting, tetapi kita membawanya lebih jauh ke hadapan Tuhan. Kita belajar menerima penghiburan untuk apa yang pernah melukai kita, mengakui apa yang menjadi bagian kita, dan membiarkan Tuhan membentuk cara kita merespons kehidupan dan orang lain hari ini.