Ketika mulai melihat kembali pengalaman masa kecil, kita mungkin merasa tidak ada hal yang perlu dipersoalkan karena hubungan dengan papa dan mama sekarang sudah baik. Kita bisa berbicara dengan mereka, menikmati waktu bersama, memahami mereka dengan lebih baik, dan mungkin juga sudah tidak menyimpan kemarahan seperti dahulu. Apalagi setelah dewasa, kita mulai mengerti bahwa orang tua kita pun manusia dengan keterbatasan, pergumulan, dan cerita hidup mereka sendiri.

Karena itu, ketika ada pembicaraan tentang pengalaman masa kecil, kita mungkin bertanya, “Kalau sekarang hubungan saya dengan orang tua baik-baik saja, untuk apa melihat ke belakang lagi?”

Pertanyaan ini wajar. Hanya saja, hubungan kita dengan orang tua sekarang dan bagaimana pengalaman masa kecil membentuk kita sebenarnya tidak selalu merupakan hal yang sama.

Waktu kecil, kita memahami kehidupan dengan kapasitas seorang anak. Kita belum mampu melihat alasan di balik tindakan orang dewasa atau memahami kompleksitas keadaan keluarga. Kita hanya tahu apa yang kita alami dan bagaimana rasanya bagi kita pada saat itu. Dari pengalaman sehari-hari itulah kita perlahan belajar tentang diri sendiri dan tentang relasi.

Misalnya, seorang anak yang sering diminta untuk mengerti keadaan mungkin tumbuh menjadi seseorang yang sangat mudah memahami kebutuhan orang lain, tetapi tidak terlalu mengenali kebutuhannya sendiri. Anak yang merasa lebih aman ketika tidak menimbulkan masalah mungkin kemudian terbiasa menahan apa yang ia rasakan. Anak yang mendapatkan banyak penerimaan ketika berhasil mungkin tanpa sadar mulai menghubungkan penerimaan dengan performa. Tidak semua pengalaman seperti ini berarti orang tua telah melakukan sesuatu yang buruk. Sering kali tidak ada seorang pun yang sengaja membentuk pola tersebut. Namun, seorang anak tetap menarik kesimpulan dari apa yang ia alami, lalu membawa cara memahami kehidupan itu ketika ia bertumbuh.

Itulah sebabnya hubungan dengan orang tua dapat menjadi jauh lebih baik ketika kita dewasa, sementara beberapa pola yang terbentuk dahulu masih ikut berjalan bersama kita. Pola itu bahkan mungkin lebih terlihat dalam hubungan dengan pasangan, teman, anak, rekan kerja, atau orang-orang di komunitas daripada dalam hubungan dengan orang tua sendiri.

Kita mungkin sudah tidak marah kepada papa atau mama, tetapi masih sangat takut membuat orang lain kecewa. Kita mungkin dekat dengan keluarga, tetapi kesulitan mengatakan tidak. Kita mungkin memahami mengapa orang tua dahulu bersikap seperti itu, tetapi ketika seseorang meninggikan suara, tubuh kita segera tegang dan kita ingin menghindar. Atau kita terbiasa menjadi orang yang kuat dan dapat diandalkan sehingga menerima pertolongan dari orang lain justru terasa tidak nyaman.

Tentu tidak berarti setiap kesulitan yang kita alami sekarang pasti berasal dari masa kecil. Ada banyak hal yang membentuk seseorang sepanjang hidupnya. Karena itu, melihat masa lalu sebaiknya bukan dilakukan untuk mencari satu penyebab bagi semua masalah, tetapi untuk memahami apakah ada pengalaman dan pola lama yang masih memengaruhi cara kita menjalani kehidupan sekarang.

Hal yang sama juga berlaku ketika kita berbicara tentang pengampunan.

Dalam komunitas Kristen, ketika seseorang menceritakan pengalaman menyakitkan dengan orang tuanya, respons yang muncul kadang cukup cepat: “Kamu sudah mengampuni belum?” Pengampunan memang merupakan bagian penting dari kehidupan bersama Kristus, tetapi pertanyaan itu dapat menjadi terlalu sederhana jika digunakan untuk menentukan apakah seseorang sudah pulih atau belum.

Seseorang dapat sungguh-sungguh memilih untuk mengampuni orang tuanya dan tetap menemukan bahwa ada hal-hal di dalam dirinya yang membutuhkan proses. Ia mungkin tidak lagi menyimpan keinginan untuk membalas, sudah dapat memahami keterbatasan orang tuanya, bahkan memiliki hubungan yang hangat dengan mereka, tetapi masih membawa rasa takut, kesedihan, atau cara tertentu dalam melindungi diri yang terbentuk sejak lama.

Itu tidak dengan sendirinya berarti ia belum mengampuni.

Pengampunan berhubungan dengan bagaimana kita merespons orang yang telah menyakiti kita, sedangkan pemrosesan pengalaman juga menyentuh apa yang terjadi di dalam diri kita sebagai akibat dari apa yang kita alami. Keduanya dapat saling berkaitan, tetapi tidak selalu selesai pada waktu dan dengan cara yang sama.

Karena itu, mungkin kita tidak perlu terlalu cepat mengukur keadaan seseorang dari apakah ia masih merasa sedih ketika membicarakan masa lalu atau apakah ia sudah dapat mengatakan bahwa dirinya telah mengampuni. Ada kalanya seseorang sudah mengampuni tetapi baru kemudian menyadari betapa pengalaman tertentu memengaruhi caranya berelasi. Ada juga orang yang membutuhkan waktu untuk memahami apa yang sebenarnya ia rasakan sebelum dapat berbicara tentang pengampunan dengan jujur.

Memproses pengalaman masa kecil juga bukan berarti kita harus melihat orang tua sebagai penyebab segala sesuatu yang salah dalam hidup kita. Ketika dewasa, kita dapat melihat cerita dengan lebih utuh. Kita dapat memahami bahwa papa dan mama mungkin juga dibesarkan dengan cara tertentu, hidup dalam tekanan yang tidak kita pahami ketika masih kecil, atau memberikan apa yang mereka mampu berikan pada saat itu.

Pemahaman itu dapat menumbuhkan belas kasih kepada mereka, tetapi belas kasih tidak mengharuskan kita menyangkal pengalaman kita sendiri. Kita dapat memahami alasan seseorang melakukan sesuatu sekaligus mengakui bahwa apa yang terjadi tetap mempunyai dampak bagi kita.

Mungkin karena itu pertanyaan yang lebih membantu bukan sekadar, “Apakah saya masih punya luka masa kecil?” Kita dapat mulai memperhatikan bagaimana kita menjalani kehidupan sekarang. Ketika terjadi konflik, apa yang biasanya kita lakukan? Ketika seseorang kecewa kepada kita, mengapa rasanya begitu sulit? Ketika membutuhkan pertolongan, mengapa kita memilih mengurus semuanya sendiri? Ketika ingin mengatakan tidak, apa yang kita takutkan akan terjadi? Ketika melakukan kesalahan, bagaimana kita berbicara kepada diri sendiri?

Kadang melalui pertanyaan-pertanyaan seperti ini kita mulai melihat bahwa ada cara-cara tertentu yang dahulu kita pelajari untuk menghadapi kehidupan. Cara itu mungkin sangat masuk akal pada waktu kita kecil. Menjadi anak yang tidak merepotkan, berusaha menyenangkan semua orang, menarik diri ketika suasana tidak aman, atau belajar tidak terlalu berharap kepada siapa pun mungkin pernah membantu kita menjalani keadaan yang ada.

Ketika dewasa, kita mempunyai kesempatan untuk melihat kembali apakah cara tersebut masih perlu terus mengatur kehidupan kita.

Bagi orang percaya, proses ini juga dapat menjadi bagian dari perjalanan kita bersama Tuhan. Kita tidak melihat masa lalu hanya untuk memahami mengapa kita menjadi seperti sekarang, tetapi juga membawa pemahaman itu ke dalam relasi dengan-Nya. Ada bagian-bagian diri yang mungkin selama ini kita sembunyikan, abaikan, atau bahkan kita anggap tidak rohani. Ada kebutuhan yang sulit kita akui, emosi yang cepat kita tekan, atau keyakinan tentang diri sendiri yang sudah begitu lama kita pegang sehingga terasa seperti kebenaran.

Di dalam proses pertumbuhan, Tuhan dapat menolong kita melihat semua itu dengan lebih jernih. Firman-Nya menolong kita membedakan antara apa yang selama ini kita percayai dan apa yang benar. Relasi yang sehat dapat memberi pengalaman baru yang berbeda dari apa yang pernah kita kenal. Kita pun perlahan belajar merespons kehidupan bukan hanya berdasarkan apa yang dahulu kita perlukan untuk bertahan, tetapi berdasarkan siapa kita sekarang dan apa yang sedang Tuhan kerjakan di dalam kita.

Jadi, memiliki hubungan yang baik dengan papa dan mama hari ini adalah sesuatu yang dapat kita syukuri. Kita tidak perlu mencurigai hubungan yang sudah baik atau sengaja mencari-cari luka yang mungkin tidak ada. Namun, kita juga tidak perlu menggunakan keadaan hubungan hari ini untuk menutup kemungkinan bahwa ada pengalaman masa lalu yang masih perlu dipahami.

Kita dapat mengasihi orang tua kita, memahami keterbatasan mereka, dan tetap jujur terhadap pengalaman kita sendiri. Kita dapat mengampuni tanpa berpura-pura bahwa segala dampaknya langsung hilang. Dan ketika dalam perjalanan itu kita menemukan pola lama yang masih terbawa sampai hari ini, kita tidak harus tergesa-gesa membereskannya. Kita dapat membawanya kepada Tuhan, memahaminya dengan lebih jujur, dan belajar sedikit demi sedikit untuk hidup dengan cara yang semakin selaras dengan kebenaran dan anugerah-Nya.