Ketika mulai belajar tentang emosi, pengalaman masa kecil, attachment, atau pola-pola relasi, kita mungkin menemukan bahasa baru untuk memahami diri sendiri. Hal-hal yang dahulu hanya kita sebut sebagai “sifat saya memang begini” mulai terlihat mempunyai cerita. Kita mulai mengerti mengapa konflik membuat kita begitu takut, mengapa penolakan terasa sangat berat, mengapa kita sulit mempercayai orang lain, atau mengapa kita terbiasa mengurus semuanya sendiri.

Pemahaman seperti ini dapat menolong. Ada pengalaman yang memang menyakitkan dan meninggalkan dampak. Ada kehilangan yang belum pernah sempat kita tangisi. Ada kebutuhan yang dahulu tidak dapat kita ungkapkan. Ada cara-cara melindungi diri yang terbentuk ketika kita belum mempunyai banyak pilihan.

Alkitab sendiri tidak asing dengan pengalaman manusia yang terluka. Para pemazmur berbicara tentang kesedihan, ketakutan, kehilangan, kesepian, dan hati yang hancur. Mazmur 34:19 menggambarkan Tuhan sebagai Allah yang dekat kepada orang-orang yang patah hati dan menyelamatkan mereka yang remuk jiwanya. Penderitaan tidak selalu diperlakukan sebagai persoalan dosa yang harus segera dikoreksi. Ada saat ketika seseorang membutuhkan penghiburan, pertolongan, dan ruang untuk membawa apa yang sungguh dialaminya kepada Tuhan.

Namun, dalam perjalanan mengenal diri, ada pertanyaan lain yang juga perlu mendapat tempat: apakah semua yang kita temukan di dalam diri cukup dijelaskan sebagai luka?

Kadang kita memang sedang berhadapan dengan sesuatu yang pernah terjadi kepada kita. Namun, kadang kita juga sedang berhadapan dengan bagaimana kita sekarang merespons orang lain. Tidak jarang keduanya berada dalam cerita yang sama.

Seseorang yang berkali-kali mengalami penolakan mungkin belajar menjaga jarak supaya tidak kembali terluka. Ketika dewasa, ia bisa sangat peka terhadap tanda-tanda penolakan dan cepat menarik diri. Memahami sejarahnya menolong kita melihat mengapa respons itu terbentuk. Tetapi dalam relasi sekarang, mungkin ia juga mulai melihat bahwa ketika merasa terancam ia menghukum orang lain dengan diam, menolak berbicara, atau sengaja membuat orang lain merasa bersalah.

Memahami dari mana pola itu berasal dapat menolong kita melihat diri dengan lebih berbelas kasih. Namun, pemahaman tersebut tidak harus membuat kita berhenti melihat tanggung jawab kita terhadap apa yang kita lakukan hari ini.

Demikian juga sebaliknya. Jika kita hanya melihat perilakunya dan berkata, “Kamu berdosa, bertobatlah,” kita mungkin belum melihat keseluruhan manusia yang sedang kita hadapi. Pertobatan memang diperlukan ketika kita berdosa, tetapi orang tersebut mungkin juga membutuhkan pertolongan untuk memahami ketakutan dan pengalaman yang membuatnya terus kembali kepada pola tertentu.

Alkitab memberi tempat bagi keduanya. Ada ratapan ketika manusia menderita, ada penghiburan bagi mereka yang remuk, dan ada pula panggilan untuk mengakui dosa serta berbalik kepada Tuhan. Karena itu, kita tidak perlu menganggap setiap rasa sakit sebagai dosa, tetapi kita juga tidak perlu menggunakan rasa sakit untuk membenarkan setiap respons kita.

Mengenal diri dalam kehidupan bersama Tuhan akhirnya bukan hanya usaha menemukan penjelasan tentang diri sendiri. Pemazmur berdoa, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku” (Mazmur 139:23), lalu meminta Tuhan melihat apakah ada jalan yang serong di dalam dirinya dan menuntunnya di jalan yang kekal (Mazmur 139:24).

Ada kerendahan hati di dalam doa seperti ini. Kita membawa cerita, emosi, ketakutan, pola, dan respons kita kepada Tuhan karena kita sendiri tidak selalu dapat melihat dengan jernih apa yang sedang terjadi di dalam diri kita.

Ada saat ketika kita perlu bertanya, “Apa yang terjadi pada saya? Apa yang saya alami? Apa yang masih terasa menyakitkan? Apa yang selama ini saya lakukan untuk melindungi diri?”

Namun, kita juga dapat bertanya, “Bagaimana saya merespons apa yang terjadi pada saya? Apakah cara saya melindungi diri sekarang melukai orang lain? Apakah ada sesuatu yang terus saya benarkan karena saya mempunyai alasan untuk melakukannya? Adakah bagian yang Tuhan sedang minta saya akui dan tinggalkan?”

Jawabannya tidak selalu langsung jelas. Dalam satu pola yang sama, mungkin ada pengalaman yang membutuhkan perhatian dan pemulihan, sekaligus respons yang perlu kita pertanggungjawabkan. Karena itu, kita tidak harus tergesa-gesa memberi label pada diri sendiri. Kita dapat belajar melihat dengan lebih jujur sambil membiarkan Tuhan menolong kita membedakan apa yang sedang terjadi.

Ketika yang Tuhan tunjukkan adalah dosa, kita tidak hanya membutuhkan penjelasan tentang mengapa kita melakukannya. Kita membutuhkan pengakuan dan pertobatan. 1 Yohanes 1:9 mengingatkan bahwa ketika kita mengaku dosa, Allah setia dan adil untuk mengampuni serta menyucikan kita. Kita dapat datang kepada-Nya tanpa harus menyembunyikan atau mempertahankan apa yang sudah kita lihat dengan jelas.

Namun, pertobatan tidak berarti kita harus menyangkal cerita kita. Mengetahui bahwa sebuah respons adalah dosa tidak membuat pengalaman yang melatarbelakanginya menjadi tidak penting. Sebaliknya, memahami pengalaman yang melatarbelakangi sebuah perilaku tidak membuat perilaku tersebut otomatis menjadi benar.

Di sinilah anugerah menjadi penting. Roma 2:4 mengatakan bahwa kemurahan Allah menuntun kita kepada pertobatan. Pertobatan dalam kehidupan Kristen bukan usaha untuk membuat diri kita layak diterima kembali oleh Tuhan. Kita berani melihat apa yang salah justru karena kita datang kepada Allah yang di dalam Kristus telah mendekati kita dengan anugerah dan kebenaran.

Anugerah memberi ruang bagi kita untuk melihat kenyataan dengan lebih utuh. Kita tidak perlu mengecilkan apa yang pernah terjadi pada kita, tetapi kita juga tidak perlu menggunakan masa lalu untuk membenarkan segala sesuatu yang kita lakukan sekarang. Kita dapat membawa kepada Tuhan bagian diri yang membutuhkan penghiburan dan pemulihan, sekaligus respons dan pilihan yang perlu diakui, dikoreksi, dan diarahkan kembali kepada-Nya.

Proses seperti ini tidak selalu cepat. Ada pola yang baru terlihat setelah bertahun-tahun. Ada hal yang awalnya kita pahami sebagai kelemahan, lalu perlahan kita menyadari bahwa ada pilihan kita sendiri di dalamnya. Ada pula sesuatu yang selama ini kita anggap sebagai kegagalan rohani, tetapi ketika dilihat lebih dekat ternyata ada kesedihan, kehilangan, atau ketakutan yang selama ini tidak pernah mendapat ruang.

Karena itu kita membutuhkan Firman, karya Roh Kudus, komunitas yang sehat, dan kadang pendampingan yang menolong kita melihat diri dengan lebih jernih. Bukan supaya setiap pengalaman dapat dimasukkan ke dalam kategori “luka” atau “dosa”, tetapi supaya kita semakin belajar hidup di hadapan Tuhan dengan jujur.

Dalam perjalanan itu, mungkin kita akan menemukan bagian kehidupan yang membutuhkan penghiburan dan pemulihan. Kita mungkin juga menemukan sikap, pilihan, dan respons yang perlu kita akui dan tinggalkan. Kadang keduanya muncul dalam cerita yang sama. Kita membawa semuanya kepada Tuhan, meminta-Nya menyelidiki hati kita dan menuntun kita untuk terus bertumbuh di dalam kebenaran dan anugerah-Nya.