Belakangan saya banyak memikirkan satu pertanyaan: setelah lahir baru, lalu apa?
Sebagai orang Kristen, tentu kita mengenal pentingnya lahir baru. Kita percaya bahwa lahir baru bukan sekadar usaha untuk menjadi orang yang lebih baik atau memperbaiki kehidupan lama. Lahir baru adalah karya Allah yang memberi kita hidup baru di dalam Kristus. Namun semakin saya memikirkan kata lahir, semakin saya menyadari sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana. Kalau namanya lahir, bukankah itu berarti sesuatu baru saja dimulai?
Seorang bayi tidak berhenti pada kenyataan bahwa ia sudah lahir. Setelah kelahiran, dimulailah perjalanan panjang untuk bertumbuh. Ia belajar mengenali orang-orang di sekitarnya, belajar duduk, berjalan, berbicara, berelasi, dan perlahan-lahan menjadi semakin dewasa. Proses itu membutuhkan waktu dan tidak selalu berjalan dengan mulus. Ketika memikirkan hal ini, saya mulai melihat kehidupan baru di dalam Kristus dengan cara yang sama. Kita memang telah menerima hidup baru, tetapi kemudian kita perlu belajar bagaimana menjalani hidup sebagai manusia baru itu dalam kehidupan yang nyata.
Kehidupan baru yang perlu dijalani
Kadang kehidupan Kristen tanpa sadar lebih banyak menekankan pengalaman awal: kapan kita percaya, kapan kita menerima Kristus, atau apakah kita sudah lahir baru. Semua itu tentu penting. Namun ketika membaca Perjanjian Baru, saya melihat bahwa kehidupan orang percaya tidak berhenti pada pengalaman tersebut.
Paulus berbicara tentang pembaruan pikiran dalam Roma 12:2. Dalam Efesus 4:22–24 ia berbicara tentang menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru, lalu beberapa ayat sebelumnya ia menggambarkan pertumbuhan orang percaya menuju kedewasaan di dalam Kristus (Efesus 4:13–15). Yesus sendiri, dalam Yohanes 15:4–5, berbicara tentang tinggal di dalam Dia dan menghasilkan buah.
Semua ini membuat saya melihat bahwa kehidupan baru yang telah kita terima kemudian perlu dijalani dan semakin terintegrasi ke dalam kehidupan sehari-hari. Kita belajar mengenal Tuhan bukan hanya melalui apa yang kita ketahui tentang-Nya, tetapi juga melalui pengalaman berjalan bersama-Nya. Apa yang kita percaya perlahan-lahan bertemu dengan ketakutan kita, cara kita memperlakukan orang lain, keputusan yang kita ambil, respons kita ketika terluka, dan cara kita menghadapi kegagalan.
Di situlah pertumbuhan sering kali menjadi jauh lebih nyata daripada yang kita bayangkan. Ada hal-hal tentang Tuhan yang mungkin sudah lama kita ketahui, tetapi baru kita sadari belum sungguh-sungguh kita hidupi ketika kehidupan menyentuh bagian tertentu dalam diri kita.
Kedewasaan di tengah kehidupan yang nyata
Dulu saya mungkin lebih mudah membayangkan bahwa orang yang semakin dewasa secara rohani seharusnya semakin sedikit mengalami pergumulan. Kalau imannya semakin kuat, mestinya ia tidak terlalu takut, tidak mudah kecewa, tidak marah, atau tidak lagi bergumul dengan hal-hal yang sama.
Tetapi semakin menjalani kehidupan, saya melihat bahwa kedewasaan tidak membuat kita berhenti menjadi manusia. Kita tetap dapat mengalami takut, sedih, kecewa, marah, bingung, dan gagal. Pertanyaannya kemudian bukan semata-mata apakah emosi dan pergumulan itu masih ada, melainkan bagaimana kita belajar menjalaninya bersama Tuhan.
Seseorang mungkin masih merasa takut, tetapi perlahan ia belajar mengenali ketakutannya dan tidak membiarkan ketakutan itu menentukan seluruh keputusannya. Kita bisa terluka dalam relasi, tetapi seiring pertumbuhan kita belajar memahami apa yang terjadi di dalam diri, memproses luka itu dengan jujur, dan tidak sekadar bereaksi dari rasa sakit yang belum disadari. Kita pun masih bisa gagal, tetapi kegagalan tidak harus selalu berakhir pada rasa malu atau kesimpulan bahwa diri kita tidak berharga. Kita dapat belajar mengambil tanggung jawab, menerima apa yang perlu dikoreksi, lalu mencoba kembali.
Bagi saya, justru di ruang-ruang kehidupan seperti inilah pertumbuhan menjadi konkret. Kedewasaan di dalam Kristus bukan hanya terlihat dari seberapa banyak hal yang kita ketahui tentang iman, tetapi juga dari bagaimana kebenaran yang kita percayai semakin masuk ke dalam cara kita menjalani kehidupan.
Bertumbuh dari anugerah
Dalam perjalanan itu saya juga semakin menyadari betapa pentingnya memahami anugerah. Tanpa sadar, kita bisa menjalani kehidupan Kristen seolah-olah penerimaan Tuhan berada di ujung proses perubahan kita. Kita merasa harus menjadi cukup baik, cukup kuat, cukup taat, atau cukup rohani terlebih dahulu sebelum merasa aman datang kepada-Nya.
Padahal kehidupan baru kita justru dimulai dari apa yang telah Allah kerjakan bagi kita di dalam Kristus. Kita tidak sedang berusaha bertumbuh supaya suatu hari layak diterima oleh-Nya. Kita belajar bertumbuh karena di dalam Kristus kita telah menerima anugerah-Nya dan dibawa masuk ke dalam kehidupan bersama-Nya.
Pemahaman ini bagi saya mengubah cara melihat proses pertumbuhan. Ketika penerimaan tidak lagi bergantung pada keberhasilan kita menjadi sempurna, kita memiliki keberanian yang lebih besar untuk melihat diri dengan jujur. Kita tidak perlu terus menyangkal kelemahan untuk mempertahankan gambaran diri sebagai orang yang “baik-baik saja”. Koreksi pun tidak harus selalu terasa seperti ancaman terhadap nilai diri. Bahkan ketika gagal, kita dapat belajar mengakui kegagalan, mengambil tanggung jawab atas bagian kita, menerima pertolongan, dan kembali berjalan.
Tentu anugerah bukan berarti perubahan menjadi tidak penting. Justru karena anugerah, kita dapat berhadapan dengan kebenaran tanpa harus terus bersembunyi. Ada ruang untuk mengakui bahwa sesuatu dalam diri atau kehidupan kita perlu berubah, sambil tetap mengetahui bahwa kasih Allah tidak menunggu sampai proses perubahan itu selesai.
Ketika iman menyentuh seluruh kehidupan
Saya juga semakin melihat bahwa pertumbuhan di dalam Kristus sulit dibatasi hanya pada bagian kehidupan yang biasanya kita sebut “rohani”. Kita adalah manusia yang utuh. Apa yang terjadi dalam kehidupan batin kita akan memengaruhi relasi, tubuh, pekerjaan, keputusan, dan cara kita menjalankan tanggung jawab. Sebaliknya, apa yang terjadi dalam relasi dan pengalaman hidup kita juga dapat membuka bagian-bagian dalam diri yang selama ini belum kita sadari.
Karena itu, apa yang kita percayai tentang Tuhan pada akhirnya akan bertemu dengan cara kita menghadapi konflik, mengelola emosi, menggunakan waktu dan tubuh, bekerja, menjadi orang tua atau sahabat, membuat batasan dalam relasi, serta mengambil keputusan sehari-hari. Tidak semuanya langsung berubah ketika kita menjadi orang percaya. Ada pola-pola lama yang baru kita sadari setelah bertahun-tahun, ada bagian diri yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk diproses, dan terkadang ada hal yang kita pikir sudah selesai tetapi muncul kembali dalam bentuk yang berbeda.
Saya rasa itu sebabnya pertumbuhan lebih tepat dipahami sebagai perjalanan daripada proyek yang harus segera diselesaikan. Ada masa ketika perubahan terasa jelas, tetapi ada juga masa ketika kita seperti berjalan pelan. Terkadang Tuhan sedang menunjukkan sesuatu yang sebelumnya tidak kita lihat. Di waktu lain, kita mungkin sedang belajar menghidupi sesuatu yang sebenarnya sudah lama kita ketahui.
Mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan
Kalau pertumbuhan adalah karya Tuhan, apakah itu berarti kita hanya menunggu? Saya rasa tidak. Ada banyak cara kita mengambil bagian dalam proses tersebut. Kita membaca Firman dan belajar mengenal Tuhan, berefleksi dengan jujur, membuka diri terhadap koreksi dan umpan balik, mencoba respons yang berbeda ketika menyadari pola yang tidak sehat, meminta pertolongan ketika membutuhkannya, serta belajar melalui relasi dan komunitas.
Namun semua itu juga mengingatkan saya bahwa ada batas dari apa yang dapat kita hasilkan sendiri. Kita dapat menciptakan ruang untuk belajar, menyediakan waktu, berlatih, dan mengambil tanggung jawab atas respons kita, tetapi kita tidak dapat memproduksi transformasi hanya dengan kemauan dan kekuatan sendiri.
Paulus menggambarkan hal ini dengan sangat sederhana ketika menulis, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan” (1 Korintus 3:6).
Ayat itu menolong saya melihat adanya dua hal yang berjalan bersama. Kita bukan peserta pasif dalam perjalanan pertumbuhan, tetapi kita juga bukan pihak yang memegang kendali penuh atas hasilnya. Ada bagian yang perlu kita jalani dengan setia, dan pada saat yang sama ada ketergantungan kepada Allah yang terus bekerja di dalam kita. Bagi saya, ini membuat perjalanan pertumbuhan tidak harus menjadi perlombaan untuk secepat mungkin menghasilkan versi diri yang lebih baik.
Setelah lahir baru, lalu apa?
Ketika kembali pada pertanyaan di awal, mungkin jawaban saya sekarang sederhana: setelah lahir, kita menjalani kehidupan baru itu dan belajar bertumbuh di dalamnya.
Kita belajar mengenal Tuhan semakin dalam sekaligus semakin jujur mengenali diri di hadapan-Nya. Apa yang kita percaya perlahan-lahan diuji dan dihidupi dalam relasi, emosi, tubuh, pekerjaan, tanggung jawab, pilihan, kegagalan, dan berbagai hal biasa yang memenuhi keseharian kita. Ada bagian yang bertumbuh dengan cepat dan ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Kita mungkin beberapa kali kembali berhadapan dengan pola yang sama, tetapi kali ini dengan kesadaran dan respons yang berbeda.
Karena itu, saya tidak lagi melihat lahir baru sebagai garis akhir perjalanan rohani. Kelahiran justru membuka perjalanan kehidupan bersama Kristus, di mana kita terus belajar menjalani hidup baru yang telah kita terima dan semakin dibentuk menuju kedewasaan di dalam Dia. Dalam perjalanan itu kita mengambil bagian dengan belajar, merespons, dan berjalan dalam ketaatan, sambil terus bergantung kepada anugerah dan karya Tuhan yang memberi pertumbuhan.
Mungkin pertanyaan yang dapat kita bawa setelah membaca ini bukan hanya, “Apakah saya sudah lahir baru?”, tetapi juga melihat kehidupan kita hari ini dan bertanya: di bagian mana Tuhan sedang mengajar saya untuk bertumbuh sebagai manusia baru di dalam Kristus?