Kita datang kepada Kristus dengan seluruh cerita hidup kita.
Kita membawa pengalaman masa kecil, cara keluarga memperlakukan emosi, pengalaman diterima atau ditolak, kehilangan, kegagalan, relasi dengan figur otoritas, serta berbagai cara yang selama ini kita gunakan untuk melindungi diri.
Ketika kita percaya kepada Kristus, kita menerima hidup yang baru. Namun pertumbuhan menuju kedewasaan tidak berarti seluruh pola lama kita otomatis hilang.
Kita mungkin sungguh mengasihi Tuhan, membaca firman, berdoa, melayani, dan bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus. Namun dalam kehidupan sehari-hari, kita juga dapat menemukan respons yang terus berulang.
Mungkin kita sangat takut mengecewakan orang lain.
Mungkin kritik kecil terasa seperti penolakan.
Mungkin kita sulit mengatakan tidak.
Mungkin kita menghindari konflik sampai akhirnya menyimpan kemarahan.
Mungkin kita merasa harus selalu kuat dan kesulitan meminta pertolongan.
Atau mungkin kita mengetahui kebenaran tentang kasih Tuhan, tetapi masih sulit menerimanya secara pribadi ketika berhadapan dengan kegagalan dan kelemahan kita sendiri.
Tidak semua respons seperti ini berarti ada luka besar di masa lalu. Manusia dibentuk oleh banyak hal: pengalaman, relasi, kebiasaan, temperamen, lingkungan, pilihan-pilihan kita sendiri, dan juga realitas dosa.
Karena itu, perjalanan pemulihan bukanlah usaha untuk menjelaskan seluruh kehidupan kita melalui luka masa lalu.
Pemulihan mengajak kita melihat dengan jujur apa yang sedang terjadi dalam diri kita di hadapan Tuhan.
Mengapa saya bereaksi seperti ini?
Apa yang sebenarnya saya takutkan?
Apa yang membuat situasi tertentu begitu kuat memengaruhi saya?
Apa yang selama ini saya percayai tentang diri saya, orang lain, dan Tuhan?
Apakah ada sesuatu yang perlu dipulihkan?
Apakah ada keyakinan yang perlu dikoreksi oleh kebenaran?
Apakah ada pola yang perlu saya pelajari kembali?
Atau adakah sikap dan tindakan yang perlu saya akui dan tinggalkan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bukan dimaksudkan untuk membuat kita terus berpusat pada diri sendiri.
Sebaliknya, pengenalan diri dapat menolong kita melihat dengan lebih jujur bagaimana kita hidup di hadapan Tuhan dan berelasi dengan sesama.
Karena apa yang tidak kita sadari sering kali ikut terbawa ke dalam hubungan kita.
Luka dapat memengaruhi cara kita mengasuh anak.
Ketakutan dapat memengaruhi cara kita memimpin.
Rasa malu dapat memengaruhi cara kita menerima kasih.
Pola pertahanan diri dapat memengaruhi pernikahan, persahabatan, komunitas, dan pelayanan.
Dan ketika pola-pola tersebut mulai dikenali, kita memiliki kesempatan untuk belajar merespons dengan cara yang berbeda.
Karena itu, pemulihan bukan sekadar tentang merasa lebih baik.
Pemulihan dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju kehidupan yang semakin utuh—belajar mengenali diri, menerima kebenaran, mengambil tanggung jawab atas respons kita, mengalami pemulihan ketika diperlukan, dan bertumbuh menuju kedewasaan di dalam Kristus.
Karya Tuhan dalam diri kita juga tidak berhenti pada diri kita sendiri.
Cara kita hadir bagi pasangan, anak, keluarga, teman, komunitas, dan generasi berikutnya dapat berubah ketika kita sendiri semakin bertumbuh.
Apa yang dipulihkan dalam diri kita dapat mengubah apa yang kita teruskan kepada orang lain.